Postingan

Keluarga

T ak jarang.. menemukan manusia-manusia yang dengan mudahnya menilai kehidupan orang lain dari luarnya saja, dari apa yang jelas terlihat oleh mata. Terlalu sedikit bahkan hampir sulit menemui manusia-manusia yang masih mau melihat apa yang sebenarnya terjadi atau apa yang sebenarnya ada dibalik kehidupan orang lain sebelum dia mulai menyimpulkan dan memberi pernyataan. Kebanyakan orang; mereka atau bahkan juga aku selalu lebih suka cepat menyimpulkan tidak peduli apa yang sebenernya terjadi dan sebagainya. Bicara tentang kehidupan, aku percaya kalau tiap-tiap manusia punya warna kehidupan yang beda-beda dan setiap keluarga ibaratkan perahu yang sedang berlayar dilautan mereka punya arus dan gelombangnya sendiri-sendiri. Statement yang sudah turun-temurun tentang seorang kakak yang harus menjaga adik-adiknya dan punya tanggung jawab lebih besar dari yang lain. Seorang adik yang selalu mendapat apa yang dia inginkan karna selalu dimanjakan hingga pada suatu hari statement itu patah. Gak...

Usai

     Ini adalah cerita yang dipaksa selesai sebelum kita yang berperan sebagai tokohnya sempat mengucapkan kata perpisahan satu sama lain. Andaikan malam itu bisa aku jadikan abadi, aku ingin menanyakan kepadamu tentang alasan kenpa kamu tiba-tiba datang dengan membawa segala rupa rasa yang bodohnya ku sambut dengan begitu hangat. Kalau saja malam itu aku tidak tergesa-gesa untuk merasa bahagia karna kamu yang datang dengan membawa peluk untuk tangis yang sudah berhari-hari mengawalku. Andai saja esok harinya aku punya keberanian untuk bertanya padamu perihal apa yang membuatmu tiba-tiba hilang begitu saja setelah cerita panjang yang kita bagi berdua tanpa jeda yang membosankan sedikitpun.      Barangkali hari ini aku tidak perlu merasa masih seperti ini, barangkali aku tidak perlu terus merasa perlu untuk tahu alasanmu yang sebenarnya. Kamu pintar sekali datang dan hilang begitu saja tanpa bertanya lebih dulu apakah aku mempersilahkan atau tidak? Tolong ja...

Istirahat Sejenak

     M ari kita istirahat sejenak dari riuhnya pikiran kita sendiri, dari ramainya perasaan apa yang kita ciptakan, dari panjangnya keresahaan akan masa depan. Mari kita sejenak mengistirahatkan diri kita, hati kita, pikiran kita. Hari ini adalah hari untuk diri kita sendiri untuk merasa luas tanpa memberatkan apa-apa, untuk merasa bebas tanpa mengkhawatirkan apa-apa untuk merasa hidup sehari ini saja. Tinggalkan sebentar perasaan takutmu, tinggalkan sebentar rasa kecewamu, lepaskan sejenak rasa kalutmu. Hari-hari kemarin cukup panjang, sementara yang kamu lakukan hanya tenggelam dalam perasaan yang tidak membuatmu senang. Maka, bolehkah kamu berbaik hati pada dirimu sendiri sehari ini saja? Untuk menjadikan kamu, kamu yang bahagia untuk menjadikan kamu, kamu yang penuh tawa, untuk menjadi kamu yang tidak memedulikan apa-apa. Tidak apa-apa, jika ada suara yang berteriak bahwa kamu sedang berpura-pura untuk baik-baik saja kita bisa menganggap ini sebagai jeda dari sebuah c...